Selasa, 14 Mei 2013

Pucuk Merah Dicinta, Keuntungan Pun Tiba

Pucuk merah dicinta, keuntungan pun tiba
Ada tren baru tanaman hias. Setelah masa adenium dan anturium lewat, kini ada pucuk merah. Selain menawarkan keindahan, tanaman ini juga berfungsi sebagai antipolutan.

Gerakan pro-lingkungan lebih hijau selalu muncul setiap tahun. Di jalan-jalan protokol, semakin banyak muncul pot-pot besar berisi tanaman yang berfungsi untuk menghijaukan kawasan.

Kini, ada tanaman yang mulai sering dipakai sebagai penghias kawasan. Ciri-ciri tanaman ini adalah sebagian besar bagian daun berwarna hijau, tapi bagian ujung daun berwarna merah dan oranye. Bentuk daunnya mirip daun cengkeh. Orang menyebutnya tanaman pucuk merah atau Syzygium oleana.

Belakangan, semakin banyak masyarakat dan instansi yang memanfaatkan pucuk merah sebagai tanaman penghijau kawasan. Selain daunnya rimbun, warna kemerah-merahan yang menutupi pohon menjadikan tanaman itu enak dilihat.

Tapi, sebenarnya, tanaman itu tak cuma menawarkan keindahan. Sebagian orang mempercayai, tanaman ini bisa mengurangi kebisingan dan polusi. Anggapan itu muncul, mungkin, lantaran daun dan cabang tanaman ini cukup rapat dan batangnya juga ramping.

Seiring dengan peningkatan permintaan, dua tahun terakhir, para petani tanaman hias menjadikan pucuk merah sebagai primadona baru. Herman Rohadi, petani di Depok, bilang, dalam sebulan, ia bisa menjual 50.000 hingga 100.000 tanaman pucuk merah. “Rata-rata pembelinya adalah para pedagang tanaman di Jakarta,” ujarnya.

Kota besar seperti Jakarta memang menjadi sasaran penjualan tanaman ini. Sofyan, salah satu pedagang tanaman hias di kawasan Rawabelong, Jakarta Barat, mengaku menjual tanaman pucuk merah dalam dua ukuran: 50 sentimeter (cm) dengan harga Rp 25.000, dan satu meter seharga Rp 150.000. Dalam sehari, ia minimal menjual 10 pohon ukuran 50 cm.

Christian Kuswanto, pemilik Warna Flora di Kompleks Taman Surya, Jakarta Barat, banyak melayani pesanan dalam jumlah banyak. Ia pernah memasok lima truk pucuk merah dalam sebulan. Satu truk memuat sekitar 200 pohon setinggi satu meter. “Saat itu, permintaan cukup banyak,” ucapnya.

Para pedagang memberi informasi, khusus di Jakarta, permintaan pucuk merah terus naik lantaran beberapa pengembang sudah tidak lagi memanfaatkan tanaman jenis soka dan beralih ke pucuk merah untuk menghijaukan kompleks. Contohnya adalah pengembang Bumi Serpong Damai (BSD) di Tangerang dan Green Mansion milik Agung Sedayu Grup.

Hasan Basri, seorang pengusaha lanskap, mengaku, dua pengembang itu sering memesan pucuk merah dalam jumlah besar. “Perawatan tanaman ini sangat mudah, jadi pengembang lebih senang,” jelas Hasan yang juga Ketua Perhimpunan Petani Tanaman Hias Jakarta Barat.


Lahan terbatas

Saat permintaan tinggi seperti sekarang, para petani tanaman hias di wilayah Depok, Bogor, mendapat pesanan minimal 2.000 pohon pucuk merah tiap hari. Selain Depok, kawasan yang memasok tanaman pucuk merah adalah petani di sekitar Sawangan dan Bogor.

Namun, untuk mendapat margin untung lebih besar, biasanya, para pedagang memeliharanya hingga menjadi lebih besar. Sebagai contoh, dari sekitar 1.000 pohon yang dibeli dari petani, pedagang menyisakan 200 di antaranya untuk dibesarkan. “Selain mengamankan stok, kami bisa memperoleh untung lebih besar,” ujar Christian.

Sebagai gambaran, di petani, margin keuntungan bisa mencapai 20% hingga 30%. Di tingkat penjual, besar margin laba jauh lebih tinggi, yakni sekitar 50%. Sebagai contoh, harga pucuk merah ukuran satu meter dari petani adalah sekitar Rp 50.000. Di tingkat penjual, tanaman itu dilepas ke pemilik lanskap seharga Rp 100.000.

Christian menyatakan, dalam sebulan, ia bisa menjual sekitar 1.000 pohon. Alhasil, keuntungan kotor dari jualan tanaman ini saja bisa mencapai Rp 50 juta. “Tapi tidak stabil, kadang naik kadang turun,” ujarnya.

Repotnya, ketika permintaan sedang tinggi, para petani tanaman hias mulai pusing memikirkan masalah lahan. Mereka kesulitan mendapatkan lahan lebih luas untuk pembibitan. “Saat ini, kami menyiasatinya dengan memproduksi terbatas. Yang penting, ada stok saat pembeli datang,” kata Herman.

Akibatnya, di tingkat petani, semakin susah mendapatkan tanaman pucuk merah ukuran satu meter. Maklum, petani sudah melepas pucuk merah di bawah 50 cm karena pesanan banyak, terutama dari pedagang di luar daerah. “Pedagang dari Bali ambil dari sini. Tahun depan, bisa saja giliran mereka memasok kita,” tutur Hasan. (Sumber : kontan)

Minggu, 12 Mei 2013

Manfaat Buah Tin

1. Kandungan Kalium, Omega 3 dan Omega 6 pada buah Tin/ Ara membantu untuk menjaga tekanan darah tinggi dan serangan Jantung koroner.

2. Buah Tin/ Ara kaya serat makanan, yang membuat mereka sangat efektif untuk program penurunan berat badan( Obesitas) .


3. Bahkan daun dari tanaman Tin memiliki sifat penyembuhan. Rebusan daun pohon Tin/ ara dapat membantu pasien diabetes mengurangi jumlah asupan insulin.


4. Mengkonsumsi buah tin/ ara dengan rutin dapat membantu mengurangi risiko Kanker Payudara dan Kanker Kolon.


5. Kandungan Coumarin pada buah TIN , juga dapat mengurangi resiko Kanker Prostate.


6. Kandungan Kalsium dan Kalium dalam buah Tin/ ara mencegah penipisan tulang ( Osteoporosis) , dan membantu untuk meningkatkan kepadatan tulang. Dalam 100 gram buah Tin mengandung 241mg Calsium , 2 X lebih tinggi dari kandungan Calsium pada susu( 118mg per 100 gram) .


7. Tryptophan, dalam buah Tin/ ara, menginduksi tidur yang baik dan membantu menyingkirkan gangguan tidur seperti insomnia.


8. Mengkonsumsi buah Tin/ ara mengurangi kelelahan , meningkatkan daya memori otak dan mencegah Anemia.


9. Karena efek laksatif, mengkonsumsi buah ini sangat membantu untuk mengobati sembelit kronis.


10. Konsumsi harian buah Tin/ ara direndam ( 2-3 buah ) merupakan obat yang efektif untuk terapi penyembuhan wasir.


11. Serat larut yang terdapat pada buah TIN disebut Pektin, dalam buah Tin membantu dalam mengurangi kolesterol darah.


12. Bila diterapkan pada kulit, Tin/ ara dipanggang bisa menyembuhkan radang seperti abses dan bisul.


13. Karena kadar air yang tinggi, tumbuk buah ara bertindak sebagai pembersih kulit yang sangat baik dan membantu dalam mencegah dan menyembuhkan jerawat.


14. Buah Tin kaya akan kalsium dan kalsium alternatif yang sangat baik untuk terapi pengobatan orang-orang yang alergi terhadap produk susu.


15. Buah Tin kaya akan Phenol dan Benzaldehid alami sebagai Zat Anti Tumor serta dapat membunuh Micro-organisme Pathogen, Jamur dan Virus dalam tubuh manusia.

Sabtu, 11 Mei 2013

PINDAD Siap Luncurkan Tank Pertama

PT Pindad (Persero) akan meluncurkan kendaraan tempur roda rantai atau tank. Tank yang rencananya akan dirilis merupakan tank tempur tipe ringan atau light dan medium versi Indonesia.

Hal disampaikan Kepala Departemen Produksi II (Divisi Kendaraan Khusus), Hery Mochtady kepada detikFinance di Kantor Pusat Pindad, Jalan Gatot Subroto, Bandung, Jawa Barat, Rabu (17/4/2013).

“Kalau light tank kita sudah punya prototype awal. Kalau medium kita masih tahapan konsep desain atau mematangkan desainnya seperti apa sih,” tutur Hery.

Untuk konsep tank versi light, Pindad mengadopsi tenologi dan desain tank jenis Scorpion buatan Inggris. Nantinya, tank ini, akan dikendalikan oleh tiga orang yakni bertindak sebagai commander, gunner dan driver.

“Kalau light tank itu skala scorpion, kalau medium itu skala dengan marder. Ke sana kita akan kembangkan. Kalau kelas heavy seperti leopard sepertinya kita belum. Itu terlalu berat. Kita lebih cocok di medium tapi persenjentaan kita bisa pakai misil anti tank atau pakai 105 kaliber besar,” tambahnya.

Meskipun akan mengembangkan 2 tipe tank yakni tipe light dan medium. Kemampuan senjata, tetap bisa ditingkatkan atau mengadopsi kemampuan heavy tank seperti Leopard.

“Teknologi sudah berkembang, tank medium pun mampu membawa senjata dengan kaliber besar,” sebutnya.

Untuk komponen, Hery mengakui, pihaknya di Pindad tetap memprioritaskan komponen lokal. Namun, saat komponen tersebut tidak dijual atau dikembangkan di dalam negeri, pihaknya baru membeli dari luar negeri.

“Tapi secara realistis, kita masih terbatas untuk power pack, engine, transmisi, dan cooling. Kita belum ada yang supply. Kalau senjata kaliber besar, kita masih impor karena di dalam negeri belum ada. Tapi kita usahakan, setiap kegiatan development setiap. Kalau terpaksa dengan luar negeri, kita harus ada TOT (transfer of technology), apa yang bisa kita ambil dari sana. Minimal kita tahu, konsep desain dan kalkulisinya seperti apa,” tegasnya.